Tulisan ini saya buat ketika
menunggu magrib dikontrakan saya di Mastricht Belanda. Ide paling tepat untuk
tulisan ini saya rasa adalah tentang “aura baik yang kita timbulkan, akan
berbalik ke diri kita sendiri”. Saya dan istri adalah pasangan yang sama
seperti orang lain, banyak buruk sangka ke orang lain, dll. Tapi kami berdua
selalu berusaha sekuat mungkin untuk menyemburkan aura positif ke orang
disekitar kami. Terkadang aura negatif juga terpaksa keluar, ya tergantung “lawan
main” nya juga sih. Maklumlah, namanya juga manusia.
Long story short, saya ada
pelatihan selama setengah semester di Belanda. Seluruh biaya untuk single di
cover oleh sponsor saya dengan asumsi tinggal on-campus. Namun kali ini saya
akan membawa serta istri dan anak saya. Nah, untuk bisa tinggal di Belanda,
sekeluarga, tentu bukan hal mudah. Hal yang paling membuat frustasi adalah
tentang akomodasi. Pihak kampus bersedia saja menyediakan kamar untuk family,
tapi saya harus membayar selisih tarif kamar family dengan kamar single yang
dikover sponsor, dan itu tidak sedikit. Saya diharuskan membayar €550 perbulan.
Jumlah itu tentu sangat fantastis buat saya, dikala Kurs rupiah terhadap Euro
waku itu lebih dari 15 ribu.
Akhirnya saya mencari akomodasi
selama 2 bulan via online. Segala macam situs, grup, milis, saya jejaki.
Hasilnya nihil, sebenarnya banyak sekali kamar yang ditawarkan di internet,
tapi minimal kontrak adalah satu tahun atau satu semester. Ada yang bisa 1-2
bulan, tapi itu juga sub-kontrakkan dikala si empunya kamar sedang liburan
musim panas, dan itu tentu bukan pada saat saya stay disana, karena shortcourse
saya dimulai pada musim gugur. Ada juga kamar yang disewakan harian semacam
guest house, yang tarif permalam nya sekitar €30 sampai €50. Bukankah itu hil
yang mustahal buat dompet saya?
Nah, disaat sebulan sebelum
keberangkatan, saya menerima berita bagus, ada seorang mahasiswa PhD yang
sedang mengambil data di Indonesia yang rumahnya bisa dipakai, walapun hanya
untuk dua bulan pertama. Langsung saya ambil tawaran itu, perkara sebulan
terakhir tinggal dimana, saya akan cari selagi disana. Fikiran tenang selagi
mengurus visa, paspor, dan dokumen lain. Seminggu menjelang keberangkatan, saya
dikabari oleh mahasiwa PhD tadi kalau kamarnya ternyata masih dihuni pada saat dua
minggu pertama stay disana, tapi kabar baiknya, saya bisa stay sampai akhir
pelatihan.
Dimana saya harus mencari kamar
dengan harga terjangkau, hanya untuk dua minggu, dan mepet sekali waktunya???
Saya sempat drop dan gak tau hendak kemana. Saya cek hostel, sudah
fully-booked, kalau toh ada, harganya semi hotel. Cek hotel? Takut saya lihat
harganya yang semalam sekitar €150. Saya cari sana sini, dan akhirnya saya
dikasih nomor HP seorang Indonesia yang sudah lama menetap di Belanda, sama
anggota grup PPI di kota tersebut. Awalnya saya sungkan, karena belum kenal,
tapi akhirnya saya sms saja. Walhasil 1x24 jam gak ada respon. Saya terus
mencari di internet, sampai sempet kepikiran untuk pinjam uang koperasi kantor
dulu biar bisa nginap di hostel selama 2 minggu.
Akhirnya saya nekat, saya telepon
nomor tersebut, dan yang menjawab disana adalah seorang pria yang dari suaranya
saya bisa tebak adalah setengah baya. Namanya Om Iwan. Dengan amat sopan dan
hati-hati saya minta bantuan nya. Dan disinilah keajaiban terjadi !! Om Iwan
adalah figur yang sangaat hangat dan ngobrol ditelepon dengannya untuk pertama
kali seakan kami sudah kenal bertahun-tahun. Dia meyakinkan saya untuk tenang,
dan serahkan ke dia. Biasanya ada kamar kosong dirumahnya, tapi saat itu sudah
ditempati oleh mahasiswa Indonesia lain yang juga bernasib sama seperti saya.
Lima belas menit kemudian, Om
Iwan yang telepon saya balik ke Indonesia! Saya sama sekali gak nyangka, dia
bilang nanti saya ‘dititipkan’ kesalah satu rumah orang Indonesia yang sudah 48
tahun tinggal di belanda. Saya bilang terimakasih. Mulai dari hari itu sampai
hari keberangkatan saya, Om Iwan paling tidak satu kali sehari telepon saya,
mengingatkan barang2 yang harus dibawa, terutama untuk bayi saya. Om Iwan juga
mengenalkan saya dengan induk semang saya disana, katakanlah Oma Mida dan Opa Welly.
Mereka kami tawarkan untuk
dibawakan apa dari Indonesia, dan diluar dugaan, mereka Cuma minta dibelikan
Ikan Asin Gabus, Oncom, Penyedap Rasa dan Kecap Bercabe!. Langsung saya iyakan
dan saya belikan dipasar keesokan harinya. Perhatian Om Iwan juga sangat luar
biasa, dia menawarkan untuk menjemput kami di stasiun, dan mengantarkan ke
rumah induk semang. Sungguh jasa Om Iwan tidak bisa saya lupakan seumur hidup.
Dan tentunya yg memberikan info nomor om iwan.. Hehe
ReplyDeletenice post bro... akhirnya ketemu juga ama om Iwan. Salam hangat dari saya ya...
ReplyDeleteSungguh luar biasa bang perjuanganmu...semoga diberi kelancaran, kesehatan adek qiel, tumpuan dan abang disana...amin
ReplyDelete@dino: yaa...itu tentu juga masuk dalam list "orang yang berjasa" dalam hidup ku. hehe
ReplyDelete@Mas Rizqi: iya mas, alhamdulilah sekali bisa ketemu sama beliau. Mas Rizqi ini yg pernah tinggal dirumah nya juga kah?
@amel: makasih dek...amiin..amiin...baca yg seri kedua dan ketiga nya juga ga?