Akhirnya sampailah saya di Maastricht. Om Iwan mengajak kami kerumahnya dulu, sebelum diantarkan kerumah Oma
Opa besok pagi. Kami diberi makan, minum, ngobrol hangat sampai malam. Anak Om
Iwan tiga orang, seorang perempuan sudah menikah, seorang laki-laki yang masih
kuliah penerbangan, dan seorang laki-laki yang masih sekolah dan merintis karir
sepak bola profesional. Malam itu kami diminta menginap dulu dirumah Om Iwan,
dan yang membuat saya terharu adalah
ternyata demi kami, sebagian anggota keluarga Om Iwan harus tidur di
ruang tamu, karena kami menempati kamar mereka. Saya sama sekali gak tau
tentang hal ini, sampai pada tengah malam saya harus ke kamar mandi dan
melewati ruang tamu. Betapa seorang Indonesia seperti Om Iwan menghargai tamu
dan masih memegang nilai2 ketimuran, padahal dia sudah lebih dari 40 tahun di
Belanda, dan sudah menjadi warga negara Belanda.
Keesokan paginya saya diantar om
Iwan kerumah Oma Opa. Kami sempat khawatir, karena kami membawa bayi yang pasti
adakalanya rewel. Sedangkan mereka adalah Lansia yang butuh ketenangan. Dan
lagi-lagi kebaikan tercurah ke keluarga kami. Opa dan Opa sangat sayang ke
Qiel, anak kami. Mereka tidak mengijinkan kami untuk memasak bahan makanan yang
sudah kami beli, mereka bilang, makan saja masakan mereka. Uang nya bisa
disimpan untuk kepentingan lain, Holland jauh katanya, mana bisa minta uang ke
orang tua kalau kurang. Kami sampai tidak enak hati, karena sarapan, makan siang, sampai makan malam sudah tersedia. Sesekali tanpa sepengetahuan mereka, pagi-pagi sekali kami bangun dan masak sarapan buat mereka juga. Malu juga euy makan gratis melulu.
Kami berfoto didepan rumah Opa dan Oma
Saya dipinjamkan sepeda Opa untuk ke kampus. Kalau ditinggal kuliah, maka Qiel dan mamamnya pastilah bosan dirumah saja. Opa dan Oma sesekali mengajak Qiel dan Mamam nya pergi ke pertokoan. Qiel diajak
main ke tempat bermain anak. Oma menaikkan Qiel ke mobil2an dengan koin 1 Euro yang cm bertahan 20 detik mungkin. Saking senangnya liat Qiel, Oma sampai tuker2 duit ke pengunjung mall. Barangkali Oma habis 15 euro-an hanya untuk Qiel main mobilan, hehehe. Kemana-mana kami sebisa mungkin dilarang Opa untuk
naik kendaraan umum, kasian Qiel katanya, dingin. Opa dengan senang hati mau
mengantarkan kami kemana saja. Oma juga sangat sayang ke istri saya,
diberikannya beberapa barang pribadi kesayangan nya waktu muda ke istri saya.
Ketika kami sudah pindah kerumah lain, mereka menyempatkan diri mampir untuk
mengunjungi Qiel.
Opa suka berkebun ditaman belakang, banyak sekali tanaman sayuran seperti cabe, tomat, kemangi, bahkan leunca pun ada. Kami dipersilahkan untuk memetik seperlunya kami. Dan karena mereka akan liburan ke Indonesia awal oktober ini, kami dipersilahkan untuk "menghabiskan" tanaman tersebut, karena kalau toh ditinggal, akan hancur karena musim dingin. Oma dan Opa sangat dekat dengan Qiel, mereka bilang mereka kehilangan ketika kami pindah ke rumah kontrakkan.
Oma sudah 77 tahun, sudah sakit2an. Opa agak lebih muda dari Oma. Mereka sempat mengeluh, ingin pulang saja ke Indonesia. Tapi agak sulit mengurus nya katanya. Karena mereka sudah pernah pindah kewarganegaraan dari Indonesia ke Belanda. Saya kurang tahu mekanisme nya. Tapi mereka sangat ingin 'berpulang" di Indonesia saja. Satu hal lagi yang buat mereka ragu untuk pulang adalah masalah kesehatan. Kalau di Belanda, kesehatan mereka terjamin, kalau di Indonesia, mereka sangat takut gak terawat.
Ah...Oma dan Opa, harapan kami semoga Oma dan Opa diberikan kesehatan selalu oleh Tuhan YME. Semoga Oma dan Opa bisa kembali ke pangkuan Indonesia, seperti cita-cita kalian berdua. Amin.
No comments:
Post a Comment