November 26, 2013

Dikala kemarau, dulu

Di apartemen tempat kami tinggal sekarang dilengkapi dengan mesin cuci di basement, tapi sayang, gak berfungsi sejak pertama kami datang. Ada beberapa pilihan untuk mengatasi situasi ini: (i) Nyuci di kios mesin cuci koin, opsi ini kurang efisien, karena kios mesin cuci koin gak begitu umum disini, kios terdekat mesti bersepeda 20 menitan dengan tarif 5 euro untuk 7 kg (ii) Serahin ke laundry, opsi ini gak ekonomis, sekali nyuci minimal 6 kg dengan tarif 11.25 euro, zonk! coret dari list!.(iii) Numpang nyuci di apartemen kawan, opsi ini sangat membantu, untung ada kenalan yang berbaik hati menawarkan nyuci diapartemen nya. Ada sekitar sepuluh penghuni disana dengan satu mesin cuci kecil. Kami juga tau diri, dengan tiga orang anggota keluarga dengan baby, tentu pakaian kotor pasti mengggunung. Akhirnya kami numpang disana sesekali saja, untuk pakaian besar dan sulit seperti jeans, seprei, dll. Opsi terakhir adalah (iv) Nyuci dengan tangan, opsi ini paling sering ditempuh untuk pakaian2 "ringan" dan si kecil.


Ini adalah pengalaman nyuci dengan tangan pertama kali setelah lulus D3, long time ago di jurang mangu. Setiap nyuci, yang teringat adalah kisah mamak ku dulu mencuci pakaian. Mamak adalah seorang guru agama di SDN Inpres, dan abah adalah PNS pemda. Keluarga kami punya mesin cuci pertama kali saat saya sudah kuliah. Dulu, mesin cuci tentu adalah barang mewah untuk seorang guru SD inpres dan PNS Pemda. Sebelumnya, mamak lah yang mencuci seluruh pakaian kami dengan tangan. Lupakan juga mesin jet pump ya, itupun dulu masih mewah bagi kami.

Desa tempat kami tinggal selalu kekeringan setiap tahun nya, tak cukuplah air disumur untuk mencuci. Mamak selalu mengajak kami untuk mencuci di irigasi di kampung seberang jalan. Waktu itu saya masih sekolah SD atau awal-awal SMP. Setiap pagi sebelum matahari menanjak atau setiap sore setelah matahari agak reda, kami bertiga: mamak, saya dan adik perempuan saya bersama-sama berjalan kaki, menyebrang jalan trans sumatra untuk mencapai irigasi. Saya masih ingat, bawaan kami selalu sama. Dua buah ember besar bekas cat merek "Vinilex", dan satu ember kecil untuk sikat, sabun colek, dll. Satu ember besar berisi pakaian selalu dibawa mamak, tugas saya membawa ember besar kosong untuk membilas, dan tugas adik saya membawa ember kecil berisi alat cuci.

Setiap akan menyeberang, mamak selalu tegas meminta kami berpegangan tangan, karena bus-bus AKAP dan truk-truk pembawa sembako terkenal brutal di jalan trans sumatra. Setelah disebereng jalan, kami hanya perlu berjalan sebentar. Rute nya pun saya masih ingat benar. Kami selalu lewat kolam ikan lele yang sekaligus menjadi septic tank nya si empunya kolam. hehe. Ikan lele nya memang besar-besar. Irigasi akan kami temukan setelah berjalan 5-10 menit. 

Irigasi ini bukan sungai ya, hanya aliran air selebar 1 - 1,5 meter. Yang mamak lakukan pertama kali adalah mendorong semua air yang ada, sehingga aliran semakin deras. Lalu mulai mencuci di atas batu datar dipinggir irigasi. Tugas saya adalah sesekali membantu membilas, dan menjaga adik saya yang masih TK waktu itu. Dan tugas adik saya adalah menjadi observer, kalau kalau ada "sikuning mengambang" yang lewat, dan adik saya harus menjauhkan dari kami dengan menghela-hela air.

Dikala kemarau, air pun tak cukup untuk mandi. Giliran abah yang selalu mencari cara bagaimana kami bisa mandi sebelum berangkat sekolah. Di desa tetangga kebetulan ada sumber air panas ditengah sawah, dan tak pernah kering. Dulu sumber air itu gratis, tak seperti sekarang yang dijadikan objek wisata pengobatan belerang. Saya, adik saya dan abah selalu berangkat bertiga naik motor suzuki buatan tahun 1990/1991. Mamak tak pernah ikut, karena tempat mandinya benar-benar ditengah sawah, tak ada penutup sama sekali. Ritual kami selalu sama, dua jerigen besar disamping kiri kanan motor. Adik saya duduk ditengah jerigen, dan saya dibelakang nya.

Selalu masih gelap waktu kami mandi, karena kami sudah harus berangkat sekolah jam 6.15 pagi. Saya dan adik saya selalu senang mandi dengan air panas, walaupun kalau kami berendam terlalu dalam, lumpur sawah akan naik ke permukaan, bukannya bersih, justru mandi disana akan semakin kotor. hehe. Setelah mandi, giliran abah dan saya mengisi jerigen, kami bawa corong dari rumah, kalau lupa, abah akan pakai daun jati sebagai corong. Air inilah yang akan dipakai mamak mandi dirumah, sebagian untuk masak dan minum.

Ah, kenangan masa kecil memang tak akan pernah bisa dilupakan. Bahagia buat saya dan adik saya sungguh sangat simpel, bisa main air di irigasi, atau berendam di air panas ditengah sawah. Tak pernah kami mendefinisikan kesenangan masa kecil kami dengan robot2an, boneka barbie, apalagi game sega atau nintendo. Barang-barang tadi cukup "tabu" dikeluarga kami. hehehe. Mudah-mudahan saya bisa memberi sedikit perubahan bagi anak saya kelak untuk mendefinisikan kesenangan nya. Walau tidak berarti main air di irigasi dan berendam ditengah sawah kurang menyenangkan!

Salam,
Ratu Lanang Sejagat

November 25, 2013

Susah nya cari makanan halal - Tips and Tricks

Saya termasuk orang yang tidak terlalu fanatik dengan urusan makanan halal. Sebisa mungkin saya cari yang berlabel halal, kalau gak ketemu, saya hanya bisa berusaha sampai ke level "yang penting bukan pork". Iya, dalam hal ini saya memang belum bisa seperti kolega lain yang sampai detil mencari logo E... something di kemasan makanan yang menandakan gelatin mengandung pork. 

Saya awalnya tidak skeptis tentang hal ini, tapi setelah saya pernah bekerja di sebuah restoran yang mengaku sebagai resto halal, ternyata hanya mengandalkan sertifikat halal butcher, dan tetap menggunakan bumbu2 tanpa label halal, saya jadi skeptis. Jika dalam sepanci besar sup, semua nya halal, tetapi menggunakan blok kaldu tanpa label halal, diimpor dari salah satu negara di asia timur? Saya rasa sepanci besar sup itu sudah tak lagi menjadi halal, versi saklek nya ya. 

Makanya saya sekarang mendefinisikan halal sebagai "sejauh mana usaha kita menghindari, dengan keterbatasan situasi dan kondisi tempat tinggal, serta tingkat kewajaran". Definisi ini jangan didebat dengan Scientific Islam ya, please..... saya ngaku kalah deh dari sekarang. 

Mungkin karena usaha saya untuk mencari makanan halal tak terlalu keras, makanya saya pernah beberapa kali "terperangkap" dan makan makanan tak halal. Saya ceritakan ini bukan untuk gagah2an, tapi siapa tau bisa menjadi inspirasi buat kawan2 yang akan menghadapi situasi dimana mencari makanan halal itu tak semudah di tanah air, misalnya yang mau sekolah atau kerja ke negara yang mayoritas penduduknya tidak memeluk agama islam. Tapi ingat ya, tips dan trick ini hanya untuk kalian yang berprinsip sama dengan saya: "yang penting bukan pork".

Pertama, jangan terjebak dengan stereotipe makanan di suatu negara tertentu. Maksudnya gini, kalau di Indonesia kan yang namanya Siomay (digerobak) itu pasti terbuat dari Ikan, atau seafood seperti udang dan cumi. Nah, jangan serta merta menganggap semua siomay terbuat dari seafood, dan asal makan. Itu kejadian dengan saya, setelah hampir 2 tahun makan dimsim (snack khas aussy yang by default selalu terbuat dari Lamb), saya baru tau ternyata kios langganan tempat saya beli dimsim hangat di musim dingin, ternyata mencampur Lamb dengan Pork. Semoga ada ampunan untuk saya.

Kedua, jangan menyimpulkan sendiri, bahkan sesuatu yang sudah jelas tertangkap denga panca indera, kalau itu halal, ternyata tidak ada jaminan. Saya pernah ke suatu supermarket di Belanda selatan, di butcher section nya disajikan daging masak sebagai tester yang disebelahnya ada flyer/selebaran yang saya paham persis bahwa artinya adalah calves atau sapi muda. Ingat, saya berprinsip "yang penting bukan pork" ya, jangan lagi didebat, kan itu supermarket konvensional, dll. Waktu itu gak ada penjaga disitu, akhirnya saya cicip, dan ternyata enak. Saya cari di etalase butcher nya, ternyata itu adalah pork. Saya kaget bukan kepalang. Saya datangi petugas/manajer supermarket nya, dia bilang itu flyer/selebaran untuk tester yang tadinya ada disebelah tester pork tadi. Jangan pernah menyimpulkan sendiri, clarify first!. Akhirnya dia minta maaf, dan saya lagi2 meminta ampunan.

Ketiga, jangan seratus persen percaya dengan label halal di restoran yang anda akan kunjungi. Ini terjadi dengan saya dan keluarga ketika mau makan siang di Brussel. Seorang kawan yang berkebangsaan jerman mengajak saya makan ditempat semacam fine dining yang kebanyakan menyajikan pork. Saya mengajukan pilihan lain untuk makan di restoran kebab yang sudah dimodifikasi, terlihat modern suasananya. Dan yang jelas label Hellal atau Halal terpampang sangat besar dan jelas. Saya akhirnya mantap makan siang disana, dan memilih sate with salad and frits (fries). Karena Belgia berbatasan dengan Belanda, masakan belanda mempengaruhi makanan belanda. Nah, di belanda ini sate sudah sangat lazim, karena dipengaruhi Indonesia. Dan di Belanda, sate selalu bebahan dasar ayam, atau disebut Kip Sate. Makanya saya pilihlah Sate. Dan apa jawaban yang diberikan pelayan nya? Dia bilang " Tapi kalo sate ini pork, yang gak itu ayam dan beef" (yang mereka beri nama lain, saya lupa). How on earth mereka memampang label halal, tapi jualan pork! Saya fikir ya sudah lah, mereka terlihat dari timur tengah, pasti mereka mengerti arti halal, dan tetap menjual pork demi alasan komersial, tetapi tetap memegang teguh prinsip halal, dengan memisahkan alat masak dan alat makan nya. Akhirnya saya ganti pilihan dengan ayam, dan kolega jerman saya itu memilih sate. Dan lagi-lagi, ternyata sate dan ayam itu digrill di griller yang sama. Dan akhirnya, saya dan prinsip saya memohon ampunan lagi.

Semoga tiga tips ini berguna buat pembaca sekalian. Saya berkesimpulan, cuma ada satu cara untuk memastikan 100% makanan anda adalah halal. Beli bahan protein sendiri di butcher halal, beli bumbu segar sendiri (bukan powder atau liquid dalam kemasan), dan masak sendiri, dengan alat masak sendiri. Dan bayangkan betapa sulitnya jika anda hanya 2-3 hari travelling ke suatu tempat. 

Ratu Lanang Sejagat