Jika ada yang bilang jika
laki-laki itu kuat, dan perempuan rapuh, mereka tak sepenuhnya benar. Saya bisa
bilang begitu karena saya adalah saksi hidup, dimana wanita menunjukkan kekuatan sejatinya. Mamak saya pertama kali
divonis dokter memiliki miom di ovarium nya, saat saya masih duduk di bangku
SMP. Saat itu kondisi perekonomian keluarga sedang kacau, jangankan untuk
memikirkan operasi, untuk menyampaikan gaji ke tanggal satu bulan berikutnya,
butuh perjuangan.
Saya ingat betul kala abah dan
mamak pulang dari dokter kala pertama kali, memeriksakan sakit bulanan mamak
yang menghebat. Saya dan adek tak ikut, berdua kami menunggu dirumah. Mamak
dengan santainya bilang, ada miom sebesar butir pasir, yang jika minum obat,
sangat gampang hilang. Tak tahu lah saya perkara nya, saya cuma seorang bujang
tanggung waktu itu. Sejak hari itu hingga empat tahun kemudian, setiap bulannya
rumah kami disinggahi awan mendung, sangat gelap. Tahun pertama, mamak hanya
meringis dikamar, paling lama satu haru satu malam. Mamak masih bisa memasak
dan mencuci pakaian. Tahun kedua, mamak mulai selalu izin bekerja, paling tidak
sehari dalam sebulan. Nyeri diperut mamak bertambah hebat. Saya ingat, jika
nyeri nya datang, mamak akan melakukan hal-hal “ajaib” ditempat tidur, seperti
memeluk botol berisi air panas dan tidur dengan posisi nungging.
Kunjungan ke dokter hanya membuat
mamak kecewa karena butir psir yang katanya akan hilang,justru membesar seukuran
kelereng. Sempat beberapa bulan mamak berhenti berobat saking kecewanya, dan
hanya meminum ramuan tradisional yang saya sudah lupa karena begitu beragam. Tahun
keempat mamak mulai bergelung-gelung
diatas ranjang. Tidak jarang mamak hampir menjerit sendiri diatas ranjang.
Sakitnya bertambah panjang, bisa sampai tiga hari. Saya mulai harus izin
sekolah, paling tidak sehari dalam setiap bulan nya. Karena meski perempuan, adek
masih kecil, tak banyak yang bisa diharapkan. Saya yang mencuci pakaian dan
memasak untuk seisi rumah. Abah tetap harus bekerja untuk menebus obat yang
mulai rutin diminum lagi oleh mamak.
Tahun keempat, mamak mulai
seperti “orang kesurupan” diatas ranjang jika tamu bulanannya datang. Mamak
akan berguling kekiri dan kekanan, menjerit, mendecit, berkeringat, demam,
hingga mengigau. Jangan ditanya tentang menangis, sudah kering dihari pertama
nyeri datang, karena kini rasa sakitnya bisa bertahan hingga empat dan lima
hari. Pernah mamak pingsan di kamar mandi dikala malam ketika ingin bebersih,
dan kami baru mengetahuinya dipagi hari. Bayangan mamak yang seperti didalam
ruang penyiksaan, masih sangat jelas dikepala saya hingga sekarang.
Selama empat tahun mamak menghindari
operasi, karena takut akan sakit nya, dan takut akan biaya nya. Akhirnya mamak
menyerah, dengan bantuan sanak saudara dan asuransi PNS yang diurus sana sini, mamak
diopetasi di Rumah Sakit Umum Abdoel Moeloek Bandar Lampung, tahun 2000 ketika
saya hendak naik ke kelas dua SMA.
Saya masih ingat betul, saya tak
bisa menunggui mamak operasi karea ada acara sekolah yang tak bisa ditinggal.
Tapi sepulang sekolah saya langsung ke rumah sakit. Tiba disana, mamak sudah
selesai dioperasi, ditunjukkan kepada saya segumpal daging seukuran telur angsa
dengan serabut-serabut disekitar nya, dan semacam sarang burung didekatnya.
Saya ketahui setelahnya jika itu adalah sebelah ovarium mamak beserta rahim
nya. Sejak saat itu, hilang sudah penderitaan nya.
To be continued….