December 17, 2013

Wanita-wanita tangguh dihidup ku (1)

Jika ada yang bilang jika laki-laki itu kuat, dan perempuan rapuh, mereka tak sepenuhnya benar. Saya bisa bilang begitu karena saya adalah saksi hidup, dimana wanita menunjukkan kekuatan sejatinya. Mamak saya pertama kali divonis dokter memiliki miom di ovarium nya, saat saya masih duduk di bangku SMP. Saat itu kondisi perekonomian keluarga sedang kacau, jangankan untuk memikirkan operasi, untuk menyampaikan gaji ke tanggal satu bulan berikutnya, butuh perjuangan.

Saya ingat betul kala abah dan mamak pulang dari dokter kala pertama kali, memeriksakan sakit bulanan mamak yang menghebat. Saya dan adek tak ikut, berdua kami menunggu dirumah. Mamak dengan santainya bilang, ada miom sebesar butir pasir, yang jika minum obat, sangat gampang hilang. Tak tahu lah saya perkara nya, saya cuma seorang bujang tanggung waktu itu. Sejak hari itu hingga empat tahun kemudian, setiap bulannya rumah kami disinggahi awan mendung, sangat gelap. Tahun pertama, mamak hanya meringis dikamar, paling lama satu haru satu malam. Mamak masih bisa memasak dan mencuci pakaian. Tahun kedua, mamak mulai selalu izin bekerja, paling tidak sehari dalam sebulan. Nyeri diperut mamak bertambah hebat. Saya ingat, jika nyeri nya datang, mamak akan melakukan hal-hal “ajaib” ditempat tidur, seperti memeluk botol berisi air panas dan tidur dengan posisi nungging.

Kunjungan ke dokter hanya membuat mamak kecewa karena butir psir yang katanya akan hilang,justru membesar seukuran kelereng. Sempat beberapa bulan mamak berhenti berobat saking kecewanya, dan hanya meminum ramuan tradisional yang saya sudah lupa karena begitu beragam. Tahun keempat mamak  mulai bergelung-gelung diatas ranjang. Tidak jarang mamak hampir menjerit sendiri diatas ranjang. Sakitnya bertambah panjang, bisa sampai tiga hari. Saya mulai harus izin sekolah, paling tidak sehari dalam setiap bulan nya. Karena meski perempuan, adek masih kecil, tak banyak yang bisa diharapkan. Saya yang mencuci pakaian dan memasak untuk seisi rumah. Abah tetap harus bekerja untuk menebus obat yang mulai rutin diminum lagi oleh mamak.

Tahun keempat, mamak mulai seperti “orang kesurupan” diatas ranjang jika tamu bulanannya datang. Mamak akan berguling kekiri dan kekanan, menjerit, mendecit, berkeringat, demam, hingga mengigau. Jangan ditanya tentang menangis, sudah kering dihari pertama nyeri datang, karena kini rasa sakitnya bisa bertahan hingga empat dan lima hari. Pernah mamak pingsan di kamar mandi dikala malam ketika ingin bebersih, dan kami baru mengetahuinya dipagi hari. Bayangan mamak yang seperti didalam ruang penyiksaan, masih sangat jelas dikepala saya hingga sekarang.

Selama empat tahun mamak menghindari operasi, karena takut akan sakit nya, dan takut akan biaya nya. Akhirnya mamak menyerah, dengan bantuan sanak saudara dan asuransi PNS yang diurus sana sini, mamak diopetasi di Rumah Sakit Umum Abdoel Moeloek Bandar Lampung, tahun 2000 ketika saya hendak naik ke kelas dua SMA.

Saya masih ingat betul, saya tak bisa menunggui mamak operasi karea ada acara sekolah yang tak bisa ditinggal. Tapi sepulang sekolah saya langsung ke rumah sakit. Tiba disana, mamak sudah selesai dioperasi, ditunjukkan kepada saya segumpal daging seukuran telur angsa dengan serabut-serabut disekitar nya, dan semacam sarang burung didekatnya. Saya ketahui setelahnya jika itu adalah sebelah ovarium mamak beserta rahim nya. Sejak saat itu, hilang sudah penderitaan nya.

To be continued….
  
Ratu Lanang Sejagat

November 26, 2013

Dikala kemarau, dulu

Di apartemen tempat kami tinggal sekarang dilengkapi dengan mesin cuci di basement, tapi sayang, gak berfungsi sejak pertama kami datang. Ada beberapa pilihan untuk mengatasi situasi ini: (i) Nyuci di kios mesin cuci koin, opsi ini kurang efisien, karena kios mesin cuci koin gak begitu umum disini, kios terdekat mesti bersepeda 20 menitan dengan tarif 5 euro untuk 7 kg (ii) Serahin ke laundry, opsi ini gak ekonomis, sekali nyuci minimal 6 kg dengan tarif 11.25 euro, zonk! coret dari list!.(iii) Numpang nyuci di apartemen kawan, opsi ini sangat membantu, untung ada kenalan yang berbaik hati menawarkan nyuci diapartemen nya. Ada sekitar sepuluh penghuni disana dengan satu mesin cuci kecil. Kami juga tau diri, dengan tiga orang anggota keluarga dengan baby, tentu pakaian kotor pasti mengggunung. Akhirnya kami numpang disana sesekali saja, untuk pakaian besar dan sulit seperti jeans, seprei, dll. Opsi terakhir adalah (iv) Nyuci dengan tangan, opsi ini paling sering ditempuh untuk pakaian2 "ringan" dan si kecil.


Ini adalah pengalaman nyuci dengan tangan pertama kali setelah lulus D3, long time ago di jurang mangu. Setiap nyuci, yang teringat adalah kisah mamak ku dulu mencuci pakaian. Mamak adalah seorang guru agama di SDN Inpres, dan abah adalah PNS pemda. Keluarga kami punya mesin cuci pertama kali saat saya sudah kuliah. Dulu, mesin cuci tentu adalah barang mewah untuk seorang guru SD inpres dan PNS Pemda. Sebelumnya, mamak lah yang mencuci seluruh pakaian kami dengan tangan. Lupakan juga mesin jet pump ya, itupun dulu masih mewah bagi kami.

Desa tempat kami tinggal selalu kekeringan setiap tahun nya, tak cukuplah air disumur untuk mencuci. Mamak selalu mengajak kami untuk mencuci di irigasi di kampung seberang jalan. Waktu itu saya masih sekolah SD atau awal-awal SMP. Setiap pagi sebelum matahari menanjak atau setiap sore setelah matahari agak reda, kami bertiga: mamak, saya dan adik perempuan saya bersama-sama berjalan kaki, menyebrang jalan trans sumatra untuk mencapai irigasi. Saya masih ingat, bawaan kami selalu sama. Dua buah ember besar bekas cat merek "Vinilex", dan satu ember kecil untuk sikat, sabun colek, dll. Satu ember besar berisi pakaian selalu dibawa mamak, tugas saya membawa ember besar kosong untuk membilas, dan tugas adik saya membawa ember kecil berisi alat cuci.

Setiap akan menyeberang, mamak selalu tegas meminta kami berpegangan tangan, karena bus-bus AKAP dan truk-truk pembawa sembako terkenal brutal di jalan trans sumatra. Setelah disebereng jalan, kami hanya perlu berjalan sebentar. Rute nya pun saya masih ingat benar. Kami selalu lewat kolam ikan lele yang sekaligus menjadi septic tank nya si empunya kolam. hehe. Ikan lele nya memang besar-besar. Irigasi akan kami temukan setelah berjalan 5-10 menit. 

Irigasi ini bukan sungai ya, hanya aliran air selebar 1 - 1,5 meter. Yang mamak lakukan pertama kali adalah mendorong semua air yang ada, sehingga aliran semakin deras. Lalu mulai mencuci di atas batu datar dipinggir irigasi. Tugas saya adalah sesekali membantu membilas, dan menjaga adik saya yang masih TK waktu itu. Dan tugas adik saya adalah menjadi observer, kalau kalau ada "sikuning mengambang" yang lewat, dan adik saya harus menjauhkan dari kami dengan menghela-hela air.

Dikala kemarau, air pun tak cukup untuk mandi. Giliran abah yang selalu mencari cara bagaimana kami bisa mandi sebelum berangkat sekolah. Di desa tetangga kebetulan ada sumber air panas ditengah sawah, dan tak pernah kering. Dulu sumber air itu gratis, tak seperti sekarang yang dijadikan objek wisata pengobatan belerang. Saya, adik saya dan abah selalu berangkat bertiga naik motor suzuki buatan tahun 1990/1991. Mamak tak pernah ikut, karena tempat mandinya benar-benar ditengah sawah, tak ada penutup sama sekali. Ritual kami selalu sama, dua jerigen besar disamping kiri kanan motor. Adik saya duduk ditengah jerigen, dan saya dibelakang nya.

Selalu masih gelap waktu kami mandi, karena kami sudah harus berangkat sekolah jam 6.15 pagi. Saya dan adik saya selalu senang mandi dengan air panas, walaupun kalau kami berendam terlalu dalam, lumpur sawah akan naik ke permukaan, bukannya bersih, justru mandi disana akan semakin kotor. hehe. Setelah mandi, giliran abah dan saya mengisi jerigen, kami bawa corong dari rumah, kalau lupa, abah akan pakai daun jati sebagai corong. Air inilah yang akan dipakai mamak mandi dirumah, sebagian untuk masak dan minum.

Ah, kenangan masa kecil memang tak akan pernah bisa dilupakan. Bahagia buat saya dan adik saya sungguh sangat simpel, bisa main air di irigasi, atau berendam di air panas ditengah sawah. Tak pernah kami mendefinisikan kesenangan masa kecil kami dengan robot2an, boneka barbie, apalagi game sega atau nintendo. Barang-barang tadi cukup "tabu" dikeluarga kami. hehehe. Mudah-mudahan saya bisa memberi sedikit perubahan bagi anak saya kelak untuk mendefinisikan kesenangan nya. Walau tidak berarti main air di irigasi dan berendam ditengah sawah kurang menyenangkan!

Salam,
Ratu Lanang Sejagat

November 25, 2013

Susah nya cari makanan halal - Tips and Tricks

Saya termasuk orang yang tidak terlalu fanatik dengan urusan makanan halal. Sebisa mungkin saya cari yang berlabel halal, kalau gak ketemu, saya hanya bisa berusaha sampai ke level "yang penting bukan pork". Iya, dalam hal ini saya memang belum bisa seperti kolega lain yang sampai detil mencari logo E... something di kemasan makanan yang menandakan gelatin mengandung pork. 

Saya awalnya tidak skeptis tentang hal ini, tapi setelah saya pernah bekerja di sebuah restoran yang mengaku sebagai resto halal, ternyata hanya mengandalkan sertifikat halal butcher, dan tetap menggunakan bumbu2 tanpa label halal, saya jadi skeptis. Jika dalam sepanci besar sup, semua nya halal, tetapi menggunakan blok kaldu tanpa label halal, diimpor dari salah satu negara di asia timur? Saya rasa sepanci besar sup itu sudah tak lagi menjadi halal, versi saklek nya ya. 

Makanya saya sekarang mendefinisikan halal sebagai "sejauh mana usaha kita menghindari, dengan keterbatasan situasi dan kondisi tempat tinggal, serta tingkat kewajaran". Definisi ini jangan didebat dengan Scientific Islam ya, please..... saya ngaku kalah deh dari sekarang. 

Mungkin karena usaha saya untuk mencari makanan halal tak terlalu keras, makanya saya pernah beberapa kali "terperangkap" dan makan makanan tak halal. Saya ceritakan ini bukan untuk gagah2an, tapi siapa tau bisa menjadi inspirasi buat kawan2 yang akan menghadapi situasi dimana mencari makanan halal itu tak semudah di tanah air, misalnya yang mau sekolah atau kerja ke negara yang mayoritas penduduknya tidak memeluk agama islam. Tapi ingat ya, tips dan trick ini hanya untuk kalian yang berprinsip sama dengan saya: "yang penting bukan pork".

Pertama, jangan terjebak dengan stereotipe makanan di suatu negara tertentu. Maksudnya gini, kalau di Indonesia kan yang namanya Siomay (digerobak) itu pasti terbuat dari Ikan, atau seafood seperti udang dan cumi. Nah, jangan serta merta menganggap semua siomay terbuat dari seafood, dan asal makan. Itu kejadian dengan saya, setelah hampir 2 tahun makan dimsim (snack khas aussy yang by default selalu terbuat dari Lamb), saya baru tau ternyata kios langganan tempat saya beli dimsim hangat di musim dingin, ternyata mencampur Lamb dengan Pork. Semoga ada ampunan untuk saya.

Kedua, jangan menyimpulkan sendiri, bahkan sesuatu yang sudah jelas tertangkap denga panca indera, kalau itu halal, ternyata tidak ada jaminan. Saya pernah ke suatu supermarket di Belanda selatan, di butcher section nya disajikan daging masak sebagai tester yang disebelahnya ada flyer/selebaran yang saya paham persis bahwa artinya adalah calves atau sapi muda. Ingat, saya berprinsip "yang penting bukan pork" ya, jangan lagi didebat, kan itu supermarket konvensional, dll. Waktu itu gak ada penjaga disitu, akhirnya saya cicip, dan ternyata enak. Saya cari di etalase butcher nya, ternyata itu adalah pork. Saya kaget bukan kepalang. Saya datangi petugas/manajer supermarket nya, dia bilang itu flyer/selebaran untuk tester yang tadinya ada disebelah tester pork tadi. Jangan pernah menyimpulkan sendiri, clarify first!. Akhirnya dia minta maaf, dan saya lagi2 meminta ampunan.

Ketiga, jangan seratus persen percaya dengan label halal di restoran yang anda akan kunjungi. Ini terjadi dengan saya dan keluarga ketika mau makan siang di Brussel. Seorang kawan yang berkebangsaan jerman mengajak saya makan ditempat semacam fine dining yang kebanyakan menyajikan pork. Saya mengajukan pilihan lain untuk makan di restoran kebab yang sudah dimodifikasi, terlihat modern suasananya. Dan yang jelas label Hellal atau Halal terpampang sangat besar dan jelas. Saya akhirnya mantap makan siang disana, dan memilih sate with salad and frits (fries). Karena Belgia berbatasan dengan Belanda, masakan belanda mempengaruhi makanan belanda. Nah, di belanda ini sate sudah sangat lazim, karena dipengaruhi Indonesia. Dan di Belanda, sate selalu bebahan dasar ayam, atau disebut Kip Sate. Makanya saya pilihlah Sate. Dan apa jawaban yang diberikan pelayan nya? Dia bilang " Tapi kalo sate ini pork, yang gak itu ayam dan beef" (yang mereka beri nama lain, saya lupa). How on earth mereka memampang label halal, tapi jualan pork! Saya fikir ya sudah lah, mereka terlihat dari timur tengah, pasti mereka mengerti arti halal, dan tetap menjual pork demi alasan komersial, tetapi tetap memegang teguh prinsip halal, dengan memisahkan alat masak dan alat makan nya. Akhirnya saya ganti pilihan dengan ayam, dan kolega jerman saya itu memilih sate. Dan lagi-lagi, ternyata sate dan ayam itu digrill di griller yang sama. Dan akhirnya, saya dan prinsip saya memohon ampunan lagi.

Semoga tiga tips ini berguna buat pembaca sekalian. Saya berkesimpulan, cuma ada satu cara untuk memastikan 100% makanan anda adalah halal. Beli bahan protein sendiri di butcher halal, beli bumbu segar sendiri (bukan powder atau liquid dalam kemasan), dan masak sendiri, dengan alat masak sendiri. Dan bayangkan betapa sulitnya jika anda hanya 2-3 hari travelling ke suatu tempat. 

Ratu Lanang Sejagat

October 01, 2013

Aura kebaikan ada dimana-mana (2)

Akhirnya sampailah saya di Maastricht. Om Iwan mengajak kami kerumahnya dulu, sebelum diantarkan kerumah Oma Opa besok pagi. Kami diberi makan, minum, ngobrol hangat sampai malam. Anak Om Iwan tiga orang, seorang perempuan sudah menikah, seorang laki-laki yang masih kuliah penerbangan, dan seorang laki-laki yang masih sekolah dan merintis karir sepak bola profesional. Malam itu kami diminta menginap dulu dirumah Om Iwan, dan yang membuat saya terharu adalah  ternyata demi kami, sebagian anggota keluarga Om Iwan harus tidur di ruang tamu, karena kami menempati kamar mereka. Saya sama sekali gak tau tentang hal ini, sampai pada tengah malam saya harus ke kamar mandi dan melewati ruang tamu. Betapa seorang Indonesia seperti Om Iwan menghargai tamu dan masih memegang nilai2 ketimuran, padahal dia sudah lebih dari 40 tahun di Belanda, dan sudah menjadi warga negara Belanda.


Keesokan paginya saya diantar om Iwan kerumah Oma Opa. Kami sempat khawatir, karena kami membawa bayi yang pasti adakalanya rewel. Sedangkan mereka adalah Lansia yang butuh ketenangan. Dan lagi-lagi kebaikan tercurah ke keluarga kami. Opa dan Opa sangat sayang ke Qiel, anak kami. Mereka tidak mengijinkan kami untuk memasak bahan makanan yang sudah kami beli, mereka bilang, makan saja masakan mereka. Uang nya bisa disimpan untuk kepentingan lain, Holland jauh katanya, mana bisa minta uang ke orang tua kalau kurang. Kami sampai tidak enak hati, karena sarapan, makan siang, sampai makan malam sudah tersedia. Sesekali tanpa sepengetahuan mereka, pagi-pagi sekali kami bangun dan masak sarapan buat mereka juga. Malu juga euy makan gratis melulu.


Kami berfoto didepan rumah Opa dan Oma 


Saya dipinjamkan sepeda Opa untuk ke kampus. Kalau ditinggal kuliah, maka Qiel dan mamamnya pastilah bosan dirumah saja. Opa dan Oma sesekali mengajak Qiel dan Mamam nya pergi ke pertokoan. Qiel diajak main ke tempat bermain anak. Oma menaikkan Qiel ke mobil2an dengan koin 1 Euro yang cm bertahan 20 detik mungkin. Saking senangnya liat Qiel, Oma sampai tuker2 duit ke pengunjung mall. Barangkali Oma habis 15 euro-an hanya untuk Qiel main mobilan, hehehe. Kemana-mana kami sebisa mungkin dilarang Opa untuk naik kendaraan umum, kasian Qiel katanya, dingin. Opa dengan senang hati mau mengantarkan kami kemana saja. Oma juga sangat sayang ke istri saya, diberikannya beberapa barang pribadi kesayangan nya waktu muda ke istri saya. Ketika kami sudah pindah kerumah lain, mereka menyempatkan diri mampir untuk mengunjungi Qiel.

Opa suka berkebun ditaman belakang, banyak sekali tanaman sayuran seperti cabe, tomat, kemangi, bahkan leunca pun ada. Kami dipersilahkan untuk memetik seperlunya kami. Dan karena mereka akan liburan ke Indonesia awal oktober ini, kami dipersilahkan untuk "menghabiskan" tanaman tersebut, karena kalau toh ditinggal, akan hancur karena musim dingin. Oma dan Opa sangat dekat dengan Qiel, mereka bilang mereka kehilangan ketika kami pindah ke rumah kontrakkan.

Oma sudah 77 tahun, sudah sakit2an. Opa agak lebih muda dari Oma. Mereka sempat mengeluh, ingin pulang saja ke Indonesia. Tapi agak sulit mengurus nya katanya. Karena mereka sudah pernah pindah kewarganegaraan dari Indonesia ke Belanda. Saya kurang tahu mekanisme nya. Tapi mereka sangat ingin 'berpulang" di Indonesia saja. Satu hal lagi yang buat mereka ragu untuk pulang adalah masalah kesehatan. Kalau di Belanda, kesehatan mereka terjamin, kalau di Indonesia, mereka sangat takut gak terawat.

Ah...Oma dan Opa, harapan kami semoga Oma dan Opa diberikan kesehatan selalu oleh Tuhan YME. Semoga Oma dan Opa bisa kembali ke pangkuan Indonesia, seperti cita-cita kalian berdua. Amin.



Ratu Lanang Sejagat

Aura kebaikan ada dimana-mana (3)

Akhirnya waktunya pindah kerumah kontrakan. Dirumah ini, mahasiswa PhD si empunya rumah, Mbak Emma, sangat akomodatif. Saya dibolehkan memakai sepedanya, stroller untuk anak saya, shopping cart untuk istri saya, dan semua fasilitas rumahnya. Lalu setelah beberapa lama tinggal, kami berencana jalan-jalan ke Deng Haag. Di Belanda, harga tiket lumayan mahal, tapi kalau kita bisa mengakali, banyak promo online yang bisa memangkas harga bahkan setengah atau sepertiga nya. Sebagai contoh, jika bisa bersepuluh orang ketujuan yang sama, harga tiket yang biasanya €24 sekali jalan, bisa hanya €6,5 pulang pergi.  Tiket akan dikirimkan dalam bentuk pdf ke email kita, tapi harus diprint, kalau gak, gak valid. Kebetulan teman saya semua tinggal di Wageningen, sedangkan saya di Maastricht. Mereka beli tiket jumat malam jam 10 untuk keberangkatan besok harinya, hari sabtu.

Jujur aja saya gak tau kalau harus diprint, setelah diberi tahu teman kalau harus diprint, saya bisa apa? Gak ada printer dan sudah hampir tengah malam. Kalau mau nunggu buka tempat ngeprint dihari sabtu, semua buka jam 10 pagi, dan bisa2 saya kesorean sampe denhaag. Akhirnya saya nekat naek kereta hanya dengan modal tiket pdf di email, yang rencananya kalau dicek, saya akan tunjukkan email nya aja lewat HP. Dan tibalah seorang ibu2 mengecek tiket, orang sini kan memang sangat saklek dengan aturan, saya disuruh turun distasiun berikutnya, dan diminta mengeprint tiket tsb. Saya sempat bersitegang, apa esensinya diprint dan tidak? Tapi sesuai aturan, tetap saya harus print tiket itu.

Akhirnya saya turun di stasiun Weert, kota (sangat) kecil sebelum Eindhoven. Pagi hari jam 8, dengan suhu sangat dingin. Keluar stasiun cari2 tempat ngeprint. Jangankan tempat ngeprint, gak ada satu toko pun yang sudah buka. Orang pun hanya keliatan satu dua. Saya ke Albert Heinz semacam Indomaret yang sudah buka dari jam 8. Dan dia gak bisa bantu karena alasan teknis. Tapi saya diarahkan untuk ke semacam Snapy kali ya, yang baru buka jam 10 (tetep). Akhirnya kami jalan santai aja menuju ‘Snapy’ tadi, dengan perasaan nothing to lose, kalau sampi Den Haag ya sukur, kalau gak ya balik lagi aja ke Maastricht. Karena Perjalanan kami belum setengahnya, mungkin baru kurang dr seperempat jalan.

Dan keajaiban lain terjadi !! Tiba2 seorang kakek2 bule sambil naik sepeda menyapa kami dari arah belakang, “Selamat Pagi” katanya. Namanya Om Fen Janssen, ternyata dia adalah pensiunan yang punya istri blasteran Indo Belanda dan sangat cinta Indonesia. Om Fen ke Indonesia setahun dua kali, karena dia punya rumah di Bali. Setelah ngobrol sana sini, Om Fen bilang kayaknya gak bisa deh ngeprint di “Snapy” itu, dia menawarkan saya untuk kerumahnya dan ngeprint disana. Setelah kami mengiyakan sekaligus excited, rumahnya ternyata ada didekat stasisun, demi kami, dia putar balik dan menuntun sepeda nya, dan ngobrol banyak dengan kami.


Kami diajak Om Fen ke apartemen nya, disana sudah menunggu Tante Magda dan Evelyn, istri dan anak keduanya. Mereka semua sangaat hangat dan ramah. Bahasa Indonesia Tante Magda pun sudah sangat patah-patah, karena dia sudah di Belanda selama 58 tahun. Ayah nya Tante Magda adalah asli Belanda, dan Ibu nya asli Blora. Kami diberi teh hangat dan kue-kue. Evelyn pun sangaat ramah, dia berusaha keras untuk bicara bahasa Indonesia, walaupun agak kacau, hehehe. Om Fen mempersilahkan saya untuk akses email dan print langsung tiket kereta nya. Kami disana ngobrol panjang lebar.  Yang menarik adalah, Tante Magada oleh ayahnya semenjak kecil diajarkan untuk tidak berbahasa Indonesia, karena menurut ayahnya, Tante Magda setelah ‘migrasi’ ke Belanda, sudah menjadi bangsa Belanda, tidak perlu lagi berbahasa Indonesia. Padahal, sungguh, wajah Tante Magda sangat Indonesia sekali menurut saya. Hehehe.

Kami sangat merasa beruntung, bisa bertemu dengan orang-orang luar biasa baik. Mereka yang sudah puluhan tahun di Belanda, namun dengan ikhlas mau menerima dan menolong kami tanpa pamrih. Sungguh kisah-kisah ini menginspirasi kami untuk bisa membantu dan bermanfaat untuk orang lain. Mungkin menurut kita seuatu itu kecil, namun menurut orang lain, itu adalah hal yang sangat berharga. Kalau ditanya, apa gak ada kisah yang menyebalkan, yang menjengkelkan? Tentu ada, dengan orang-orang yang berbeda pula. Tapi rasanya tak perlulah diungkapkan disini, karena itu termasuk aura negatif, nanti kalau kita sebar, bisa berbalik ke kami lagi. Hehehe. Intinya, saya ingin menghembuskan semangat “Saya ingin menjadi orang baik” kedalam hidup saya sesering mungkin, sebisa mungkin. Karena dengan itu, saya yakin, orang baik juga akan banyak berada disekitar kita. Tak kenal jarak, tak kenal usia.


Ini dia foto keluarga Om Fen, ki-ka : Evelyn, Om Fen, Tante Magda, Qiel dan Mamam.

Ratu Lanang Sejagat

Aura kebaikan ada dimana-mana (1)


Tulisan ini saya buat ketika menunggu magrib dikontrakan saya di Mastricht Belanda. Ide paling tepat untuk tulisan ini saya rasa adalah tentang “aura baik yang kita timbulkan, akan berbalik ke diri kita sendiri”. Saya dan istri adalah pasangan yang sama seperti orang lain, banyak buruk sangka ke orang lain, dll. Tapi kami berdua selalu berusaha sekuat mungkin untuk menyemburkan aura positif ke orang disekitar kami. Terkadang aura negatif juga terpaksa keluar, ya tergantung “lawan main” nya juga sih. Maklumlah, namanya juga manusia.

Long story short, saya ada pelatihan selama setengah semester di Belanda. Seluruh biaya untuk single di cover oleh sponsor saya dengan asumsi tinggal on-campus. Namun kali ini saya akan membawa serta istri dan anak saya. Nah, untuk bisa tinggal di Belanda, sekeluarga, tentu bukan hal mudah. Hal yang paling membuat frustasi adalah tentang akomodasi. Pihak kampus bersedia saja menyediakan kamar untuk family, tapi saya harus membayar selisih tarif kamar family dengan kamar single yang dikover sponsor, dan itu tidak sedikit. Saya diharuskan membayar €550 perbulan. Jumlah itu tentu sangat fantastis buat saya, dikala Kurs rupiah terhadap Euro waku itu lebih dari 15 ribu.

Akhirnya saya mencari akomodasi selama 2 bulan via online. Segala macam situs, grup, milis, saya jejaki. Hasilnya nihil, sebenarnya banyak sekali kamar yang ditawarkan di internet, tapi minimal kontrak adalah satu tahun atau satu semester. Ada yang bisa 1-2 bulan, tapi itu juga sub-kontrakkan dikala si empunya kamar sedang liburan musim panas, dan itu tentu bukan pada saat saya stay disana, karena shortcourse saya dimulai pada musim gugur. Ada juga kamar yang disewakan harian semacam guest house, yang tarif permalam nya sekitar €30 sampai €50. Bukankah itu hil yang mustahal buat dompet saya?

Nah, disaat sebulan sebelum keberangkatan, saya menerima berita bagus, ada seorang mahasiswa PhD yang sedang mengambil data di Indonesia yang rumahnya bisa dipakai, walapun hanya untuk dua bulan pertama. Langsung saya ambil tawaran itu, perkara sebulan terakhir tinggal dimana, saya akan cari selagi disana. Fikiran tenang selagi mengurus visa, paspor, dan dokumen lain. Seminggu menjelang keberangkatan, saya dikabari oleh mahasiwa PhD tadi kalau kamarnya ternyata masih dihuni pada saat dua minggu pertama stay disana, tapi kabar baiknya, saya bisa stay sampai akhir pelatihan.

Dimana saya harus mencari kamar dengan harga terjangkau, hanya untuk dua minggu, dan mepet sekali waktunya??? Saya sempat drop dan gak tau hendak kemana. Saya cek hostel, sudah fully-booked, kalau toh ada, harganya semi hotel. Cek hotel? Takut saya lihat harganya yang semalam sekitar €150. Saya cari sana sini, dan akhirnya saya dikasih nomor HP seorang Indonesia yang sudah lama menetap di Belanda, sama anggota grup PPI di kota tersebut. Awalnya saya sungkan, karena belum kenal, tapi akhirnya saya sms saja. Walhasil 1x24 jam gak ada respon. Saya terus mencari di internet, sampai sempet kepikiran untuk pinjam uang koperasi kantor dulu biar bisa nginap di hostel selama 2 minggu.

Akhirnya saya nekat, saya telepon nomor tersebut, dan yang menjawab disana adalah seorang pria yang dari suaranya saya bisa tebak adalah setengah baya. Namanya Om Iwan. Dengan amat sopan dan hati-hati saya minta bantuan nya. Dan disinilah keajaiban terjadi !! Om Iwan adalah figur yang sangaat hangat dan ngobrol ditelepon dengannya untuk pertama kali seakan kami sudah kenal bertahun-tahun. Dia meyakinkan saya untuk tenang, dan serahkan ke dia. Biasanya ada kamar kosong dirumahnya, tapi saat itu sudah ditempati oleh mahasiswa Indonesia lain yang juga bernasib sama seperti saya.

Lima belas menit kemudian, Om Iwan yang telepon saya balik ke Indonesia! Saya sama sekali gak nyangka, dia bilang nanti saya ‘dititipkan’ kesalah satu rumah orang Indonesia yang sudah 48 tahun tinggal di belanda. Saya bilang terimakasih. Mulai dari hari itu sampai hari keberangkatan saya, Om Iwan paling tidak satu kali sehari telepon saya, mengingatkan barang2 yang harus dibawa, terutama untuk bayi saya. Om Iwan juga mengenalkan saya dengan induk semang saya disana, katakanlah Oma Mida dan Opa Welly.


Mereka kami tawarkan untuk dibawakan apa dari Indonesia, dan diluar dugaan, mereka Cuma minta dibelikan Ikan Asin Gabus, Oncom, Penyedap Rasa dan Kecap Bercabe!. Langsung saya iyakan dan saya belikan dipasar keesokan harinya. Perhatian Om Iwan juga sangat luar biasa, dia menawarkan untuk menjemput kami di stasiun, dan mengantarkan ke rumah induk semang. Sungguh jasa Om Iwan tidak bisa saya lupakan seumur hidup.


Ratu Lanang Sejagat

November 02, 2012

Roads in here and there

This note was inspired by roads in two different countries:

A year a go when I went to a “mosque” just next to my campus premises in Australia, I was surprised because there was no even single person there, but a folk of men who looked confused as I did. We were about to have Friday prayer, a once-in-a-week prayer which may be equal to a Service or Mass in Christinity and Catholic. We were not coming in the wrong time, the prayer time was right: 1.30 PM. We had no idea what was going on until a lad came to us and let us know that since that week, Friday Prayer was temporarily prohibited. The city council received complains from neighbors and people around mosque’s vicinity, as prayer congregation’s members were parking their cars irresponsibly on the road surroundings the mosque. The permit to have a communal meeting which involve a large number of praticipants was temporarily revoked. (Yes, I did not say it the license for having a prayer, as well as I put double quotes for the word “mosque”. It was indeed not registered as a worshipping premise, it was only registered as a community service building.)

I emotionally started thinking how surpressing is the city council not to let minority people to conduct their most basic rights. Until last week, in Indonesia, my own country:

I had an Ied prayer, the prayer which is performed for the second biggest Islamic festival across the year. I had it in my new house vicinity’s mosque. It was the first time for me having Ied prayer in that place, as I just moved to here couple months ago. I was surprised seeing people closed the main road in both lanes. The road was stripped using kind of white paint. The stripes were meant to be a sign for people to have a linear row in order to have a perfect prayer ritual. The road was only occupied by few people. In fact, there was spacious place in the rear of the building and was not fully occupied.

And here I started thinking as if I were the minority, when I or my family members are very sick and need to be transferred to the ER. The only way to get to the nearest hospital was closed, and a minute is a borderline between life and death. The stripes were so irresponsible as well. They obscure the road surface markings, and last there for months.

Here life opens my eyes that human are possessing basic instinct to be superior and tyrannical, anywhere on this earth.