Akhirnya waktunya pindah kerumah
kontrakan. Dirumah ini, mahasiswa PhD si empunya rumah, Mbak Emma,
sangat akomodatif. Saya dibolehkan memakai sepedanya, stroller untuk anak saya,
shopping cart untuk istri saya, dan semua fasilitas rumahnya. Lalu setelah
beberapa lama tinggal, kami berencana jalan-jalan ke Deng Haag. Di Belanda,
harga tiket lumayan mahal, tapi kalau kita bisa mengakali, banyak promo online
yang bisa memangkas harga bahkan setengah atau sepertiga nya. Sebagai contoh,
jika bisa bersepuluh orang ketujuan yang sama, harga tiket yang biasanya €24
sekali jalan, bisa hanya €6,5 pulang pergi.
Tiket akan dikirimkan dalam bentuk pdf ke email kita, tapi harus
diprint, kalau gak, gak valid. Kebetulan teman saya semua tinggal di Wageningen,
sedangkan saya di Maastricht. Mereka beli tiket jumat malam jam 10 untuk
keberangkatan besok harinya, hari sabtu.
Jujur aja saya gak tau kalau
harus diprint, setelah diberi tahu teman kalau harus diprint, saya bisa apa? Gak
ada printer dan sudah hampir tengah malam. Kalau mau nunggu buka tempat
ngeprint dihari sabtu, semua buka jam 10 pagi, dan bisa2 saya kesorean sampe
denhaag. Akhirnya saya nekat naek kereta hanya dengan modal tiket pdf di email,
yang rencananya kalau dicek, saya akan tunjukkan email nya aja lewat HP. Dan tibalah seorang
ibu2 mengecek tiket, orang sini kan memang sangat saklek dengan aturan, saya
disuruh turun distasiun berikutnya, dan diminta mengeprint tiket tsb. Saya
sempat bersitegang, apa esensinya diprint dan tidak? Tapi sesuai aturan, tetap
saya harus print tiket itu.
Akhirnya saya turun di stasiun
Weert, kota (sangat) kecil sebelum Eindhoven. Pagi hari jam 8, dengan suhu
sangat dingin. Keluar stasiun cari2 tempat ngeprint. Jangankan tempat ngeprint,
gak ada satu toko pun yang sudah buka. Orang pun hanya keliatan satu dua. Saya
ke Albert Heinz semacam Indomaret yang sudah buka dari jam 8. Dan dia gak bisa
bantu karena alasan teknis. Tapi saya diarahkan untuk ke semacam Snapy kali ya,
yang baru buka jam 10 (tetep). Akhirnya kami jalan santai aja menuju ‘Snapy’
tadi, dengan perasaan nothing to lose, kalau sampi Den Haag ya sukur, kalau gak
ya balik lagi aja ke Maastricht. Karena Perjalanan kami belum setengahnya,
mungkin baru kurang dr seperempat jalan.
Dan keajaiban lain terjadi !! Tiba2
seorang kakek2 bule sambil naik sepeda menyapa kami dari arah belakang, “Selamat
Pagi” katanya. Namanya Om Fen Janssen, ternyata dia adalah pensiunan yang punya
istri blasteran Indo Belanda dan sangat cinta Indonesia. Om Fen ke Indonesia
setahun dua kali, karena dia punya rumah di Bali. Setelah ngobrol sana sini, Om
Fen bilang kayaknya gak bisa deh ngeprint di “Snapy” itu, dia menawarkan saya
untuk kerumahnya dan ngeprint disana. Setelah kami mengiyakan sekaligus
excited, rumahnya ternyata ada didekat stasisun, demi kami, dia putar balik dan
menuntun sepeda nya, dan ngobrol banyak dengan kami.
Kami diajak Om Fen ke apartemen
nya, disana sudah menunggu Tante Magda dan Evelyn, istri dan anak keduanya.
Mereka semua sangaat hangat dan ramah. Bahasa Indonesia Tante Magda pun sudah
sangat patah-patah, karena dia sudah di Belanda selama 58 tahun. Ayah nya Tante
Magda adalah asli Belanda, dan Ibu nya asli Blora. Kami diberi teh hangat dan
kue-kue. Evelyn pun sangaat ramah, dia berusaha keras untuk bicara bahasa Indonesia,
walaupun agak kacau, hehehe. Om Fen mempersilahkan saya untuk akses email dan
print langsung tiket kereta nya. Kami disana ngobrol panjang lebar. Yang menarik adalah, Tante Magada oleh
ayahnya semenjak kecil diajarkan untuk tidak berbahasa Indonesia, karena
menurut ayahnya, Tante Magda setelah ‘migrasi’ ke Belanda, sudah menjadi bangsa
Belanda, tidak perlu lagi berbahasa Indonesia. Padahal, sungguh, wajah Tante
Magda sangat Indonesia sekali menurut saya. Hehehe.
Kami sangat merasa beruntung,
bisa bertemu dengan orang-orang luar biasa baik. Mereka yang sudah puluhan
tahun di Belanda, namun dengan ikhlas mau menerima dan menolong kami tanpa
pamrih. Sungguh kisah-kisah ini menginspirasi kami untuk bisa membantu dan
bermanfaat untuk orang lain. Mungkin menurut kita seuatu itu kecil, namun
menurut orang lain, itu adalah hal yang sangat berharga. Kalau ditanya, apa gak
ada kisah yang menyebalkan, yang menjengkelkan? Tentu ada, dengan orang-orang
yang berbeda pula. Tapi rasanya tak perlulah diungkapkan disini, karena itu
termasuk aura negatif, nanti kalau kita sebar, bisa berbalik ke kami lagi. Hehehe.
Intinya, saya ingin menghembuskan semangat “Saya ingin menjadi orang baik”
kedalam hidup saya sesering mungkin, sebisa mungkin. Karena dengan itu, saya
yakin, orang baik juga akan banyak berada disekitar kita. Tak kenal jarak, tak
kenal usia.
Ini dia foto keluarga Om Fen, ki-ka : Evelyn, Om Fen, Tante Magda, Qiel dan Mamam.
Kerrn mas..subhaanallah.. Skenario Allah swt..keep sharing..
ReplyDeletekereen.. betul, perlu positive thinking dan berbagi kebaikan.. omong2, jadi ke Den Haagnya lancar nih ya krn dekat stasiun?
ReplyDelete@dino: makasih Din...makasih udah mampir
ReplyDelete@unggul: iya mas, untung rumah nya om fen gak terlalu jauh dr stasiun. tp untuk ukuran org indonesia, itu jauh jg sih, biasalah, kita kan manja...hehe