October 01, 2013

Aura kebaikan ada dimana-mana (2)

Akhirnya sampailah saya di Maastricht. Om Iwan mengajak kami kerumahnya dulu, sebelum diantarkan kerumah Oma Opa besok pagi. Kami diberi makan, minum, ngobrol hangat sampai malam. Anak Om Iwan tiga orang, seorang perempuan sudah menikah, seorang laki-laki yang masih kuliah penerbangan, dan seorang laki-laki yang masih sekolah dan merintis karir sepak bola profesional. Malam itu kami diminta menginap dulu dirumah Om Iwan, dan yang membuat saya terharu adalah  ternyata demi kami, sebagian anggota keluarga Om Iwan harus tidur di ruang tamu, karena kami menempati kamar mereka. Saya sama sekali gak tau tentang hal ini, sampai pada tengah malam saya harus ke kamar mandi dan melewati ruang tamu. Betapa seorang Indonesia seperti Om Iwan menghargai tamu dan masih memegang nilai2 ketimuran, padahal dia sudah lebih dari 40 tahun di Belanda, dan sudah menjadi warga negara Belanda.


Keesokan paginya saya diantar om Iwan kerumah Oma Opa. Kami sempat khawatir, karena kami membawa bayi yang pasti adakalanya rewel. Sedangkan mereka adalah Lansia yang butuh ketenangan. Dan lagi-lagi kebaikan tercurah ke keluarga kami. Opa dan Opa sangat sayang ke Qiel, anak kami. Mereka tidak mengijinkan kami untuk memasak bahan makanan yang sudah kami beli, mereka bilang, makan saja masakan mereka. Uang nya bisa disimpan untuk kepentingan lain, Holland jauh katanya, mana bisa minta uang ke orang tua kalau kurang. Kami sampai tidak enak hati, karena sarapan, makan siang, sampai makan malam sudah tersedia. Sesekali tanpa sepengetahuan mereka, pagi-pagi sekali kami bangun dan masak sarapan buat mereka juga. Malu juga euy makan gratis melulu.


Kami berfoto didepan rumah Opa dan Oma 


Saya dipinjamkan sepeda Opa untuk ke kampus. Kalau ditinggal kuliah, maka Qiel dan mamamnya pastilah bosan dirumah saja. Opa dan Oma sesekali mengajak Qiel dan Mamam nya pergi ke pertokoan. Qiel diajak main ke tempat bermain anak. Oma menaikkan Qiel ke mobil2an dengan koin 1 Euro yang cm bertahan 20 detik mungkin. Saking senangnya liat Qiel, Oma sampai tuker2 duit ke pengunjung mall. Barangkali Oma habis 15 euro-an hanya untuk Qiel main mobilan, hehehe. Kemana-mana kami sebisa mungkin dilarang Opa untuk naik kendaraan umum, kasian Qiel katanya, dingin. Opa dengan senang hati mau mengantarkan kami kemana saja. Oma juga sangat sayang ke istri saya, diberikannya beberapa barang pribadi kesayangan nya waktu muda ke istri saya. Ketika kami sudah pindah kerumah lain, mereka menyempatkan diri mampir untuk mengunjungi Qiel.

Opa suka berkebun ditaman belakang, banyak sekali tanaman sayuran seperti cabe, tomat, kemangi, bahkan leunca pun ada. Kami dipersilahkan untuk memetik seperlunya kami. Dan karena mereka akan liburan ke Indonesia awal oktober ini, kami dipersilahkan untuk "menghabiskan" tanaman tersebut, karena kalau toh ditinggal, akan hancur karena musim dingin. Oma dan Opa sangat dekat dengan Qiel, mereka bilang mereka kehilangan ketika kami pindah ke rumah kontrakkan.

Oma sudah 77 tahun, sudah sakit2an. Opa agak lebih muda dari Oma. Mereka sempat mengeluh, ingin pulang saja ke Indonesia. Tapi agak sulit mengurus nya katanya. Karena mereka sudah pernah pindah kewarganegaraan dari Indonesia ke Belanda. Saya kurang tahu mekanisme nya. Tapi mereka sangat ingin 'berpulang" di Indonesia saja. Satu hal lagi yang buat mereka ragu untuk pulang adalah masalah kesehatan. Kalau di Belanda, kesehatan mereka terjamin, kalau di Indonesia, mereka sangat takut gak terawat.

Ah...Oma dan Opa, harapan kami semoga Oma dan Opa diberikan kesehatan selalu oleh Tuhan YME. Semoga Oma dan Opa bisa kembali ke pangkuan Indonesia, seperti cita-cita kalian berdua. Amin.



Ratu Lanang Sejagat

Aura kebaikan ada dimana-mana (3)

Akhirnya waktunya pindah kerumah kontrakan. Dirumah ini, mahasiswa PhD si empunya rumah, Mbak Emma, sangat akomodatif. Saya dibolehkan memakai sepedanya, stroller untuk anak saya, shopping cart untuk istri saya, dan semua fasilitas rumahnya. Lalu setelah beberapa lama tinggal, kami berencana jalan-jalan ke Deng Haag. Di Belanda, harga tiket lumayan mahal, tapi kalau kita bisa mengakali, banyak promo online yang bisa memangkas harga bahkan setengah atau sepertiga nya. Sebagai contoh, jika bisa bersepuluh orang ketujuan yang sama, harga tiket yang biasanya €24 sekali jalan, bisa hanya €6,5 pulang pergi.  Tiket akan dikirimkan dalam bentuk pdf ke email kita, tapi harus diprint, kalau gak, gak valid. Kebetulan teman saya semua tinggal di Wageningen, sedangkan saya di Maastricht. Mereka beli tiket jumat malam jam 10 untuk keberangkatan besok harinya, hari sabtu.

Jujur aja saya gak tau kalau harus diprint, setelah diberi tahu teman kalau harus diprint, saya bisa apa? Gak ada printer dan sudah hampir tengah malam. Kalau mau nunggu buka tempat ngeprint dihari sabtu, semua buka jam 10 pagi, dan bisa2 saya kesorean sampe denhaag. Akhirnya saya nekat naek kereta hanya dengan modal tiket pdf di email, yang rencananya kalau dicek, saya akan tunjukkan email nya aja lewat HP. Dan tibalah seorang ibu2 mengecek tiket, orang sini kan memang sangat saklek dengan aturan, saya disuruh turun distasiun berikutnya, dan diminta mengeprint tiket tsb. Saya sempat bersitegang, apa esensinya diprint dan tidak? Tapi sesuai aturan, tetap saya harus print tiket itu.

Akhirnya saya turun di stasiun Weert, kota (sangat) kecil sebelum Eindhoven. Pagi hari jam 8, dengan suhu sangat dingin. Keluar stasiun cari2 tempat ngeprint. Jangankan tempat ngeprint, gak ada satu toko pun yang sudah buka. Orang pun hanya keliatan satu dua. Saya ke Albert Heinz semacam Indomaret yang sudah buka dari jam 8. Dan dia gak bisa bantu karena alasan teknis. Tapi saya diarahkan untuk ke semacam Snapy kali ya, yang baru buka jam 10 (tetep). Akhirnya kami jalan santai aja menuju ‘Snapy’ tadi, dengan perasaan nothing to lose, kalau sampi Den Haag ya sukur, kalau gak ya balik lagi aja ke Maastricht. Karena Perjalanan kami belum setengahnya, mungkin baru kurang dr seperempat jalan.

Dan keajaiban lain terjadi !! Tiba2 seorang kakek2 bule sambil naik sepeda menyapa kami dari arah belakang, “Selamat Pagi” katanya. Namanya Om Fen Janssen, ternyata dia adalah pensiunan yang punya istri blasteran Indo Belanda dan sangat cinta Indonesia. Om Fen ke Indonesia setahun dua kali, karena dia punya rumah di Bali. Setelah ngobrol sana sini, Om Fen bilang kayaknya gak bisa deh ngeprint di “Snapy” itu, dia menawarkan saya untuk kerumahnya dan ngeprint disana. Setelah kami mengiyakan sekaligus excited, rumahnya ternyata ada didekat stasisun, demi kami, dia putar balik dan menuntun sepeda nya, dan ngobrol banyak dengan kami.


Kami diajak Om Fen ke apartemen nya, disana sudah menunggu Tante Magda dan Evelyn, istri dan anak keduanya. Mereka semua sangaat hangat dan ramah. Bahasa Indonesia Tante Magda pun sudah sangat patah-patah, karena dia sudah di Belanda selama 58 tahun. Ayah nya Tante Magda adalah asli Belanda, dan Ibu nya asli Blora. Kami diberi teh hangat dan kue-kue. Evelyn pun sangaat ramah, dia berusaha keras untuk bicara bahasa Indonesia, walaupun agak kacau, hehehe. Om Fen mempersilahkan saya untuk akses email dan print langsung tiket kereta nya. Kami disana ngobrol panjang lebar.  Yang menarik adalah, Tante Magada oleh ayahnya semenjak kecil diajarkan untuk tidak berbahasa Indonesia, karena menurut ayahnya, Tante Magda setelah ‘migrasi’ ke Belanda, sudah menjadi bangsa Belanda, tidak perlu lagi berbahasa Indonesia. Padahal, sungguh, wajah Tante Magda sangat Indonesia sekali menurut saya. Hehehe.

Kami sangat merasa beruntung, bisa bertemu dengan orang-orang luar biasa baik. Mereka yang sudah puluhan tahun di Belanda, namun dengan ikhlas mau menerima dan menolong kami tanpa pamrih. Sungguh kisah-kisah ini menginspirasi kami untuk bisa membantu dan bermanfaat untuk orang lain. Mungkin menurut kita seuatu itu kecil, namun menurut orang lain, itu adalah hal yang sangat berharga. Kalau ditanya, apa gak ada kisah yang menyebalkan, yang menjengkelkan? Tentu ada, dengan orang-orang yang berbeda pula. Tapi rasanya tak perlulah diungkapkan disini, karena itu termasuk aura negatif, nanti kalau kita sebar, bisa berbalik ke kami lagi. Hehehe. Intinya, saya ingin menghembuskan semangat “Saya ingin menjadi orang baik” kedalam hidup saya sesering mungkin, sebisa mungkin. Karena dengan itu, saya yakin, orang baik juga akan banyak berada disekitar kita. Tak kenal jarak, tak kenal usia.


Ini dia foto keluarga Om Fen, ki-ka : Evelyn, Om Fen, Tante Magda, Qiel dan Mamam.

Ratu Lanang Sejagat

Aura kebaikan ada dimana-mana (1)


Tulisan ini saya buat ketika menunggu magrib dikontrakan saya di Mastricht Belanda. Ide paling tepat untuk tulisan ini saya rasa adalah tentang “aura baik yang kita timbulkan, akan berbalik ke diri kita sendiri”. Saya dan istri adalah pasangan yang sama seperti orang lain, banyak buruk sangka ke orang lain, dll. Tapi kami berdua selalu berusaha sekuat mungkin untuk menyemburkan aura positif ke orang disekitar kami. Terkadang aura negatif juga terpaksa keluar, ya tergantung “lawan main” nya juga sih. Maklumlah, namanya juga manusia.

Long story short, saya ada pelatihan selama setengah semester di Belanda. Seluruh biaya untuk single di cover oleh sponsor saya dengan asumsi tinggal on-campus. Namun kali ini saya akan membawa serta istri dan anak saya. Nah, untuk bisa tinggal di Belanda, sekeluarga, tentu bukan hal mudah. Hal yang paling membuat frustasi adalah tentang akomodasi. Pihak kampus bersedia saja menyediakan kamar untuk family, tapi saya harus membayar selisih tarif kamar family dengan kamar single yang dikover sponsor, dan itu tidak sedikit. Saya diharuskan membayar €550 perbulan. Jumlah itu tentu sangat fantastis buat saya, dikala Kurs rupiah terhadap Euro waku itu lebih dari 15 ribu.

Akhirnya saya mencari akomodasi selama 2 bulan via online. Segala macam situs, grup, milis, saya jejaki. Hasilnya nihil, sebenarnya banyak sekali kamar yang ditawarkan di internet, tapi minimal kontrak adalah satu tahun atau satu semester. Ada yang bisa 1-2 bulan, tapi itu juga sub-kontrakkan dikala si empunya kamar sedang liburan musim panas, dan itu tentu bukan pada saat saya stay disana, karena shortcourse saya dimulai pada musim gugur. Ada juga kamar yang disewakan harian semacam guest house, yang tarif permalam nya sekitar €30 sampai €50. Bukankah itu hil yang mustahal buat dompet saya?

Nah, disaat sebulan sebelum keberangkatan, saya menerima berita bagus, ada seorang mahasiswa PhD yang sedang mengambil data di Indonesia yang rumahnya bisa dipakai, walapun hanya untuk dua bulan pertama. Langsung saya ambil tawaran itu, perkara sebulan terakhir tinggal dimana, saya akan cari selagi disana. Fikiran tenang selagi mengurus visa, paspor, dan dokumen lain. Seminggu menjelang keberangkatan, saya dikabari oleh mahasiwa PhD tadi kalau kamarnya ternyata masih dihuni pada saat dua minggu pertama stay disana, tapi kabar baiknya, saya bisa stay sampai akhir pelatihan.

Dimana saya harus mencari kamar dengan harga terjangkau, hanya untuk dua minggu, dan mepet sekali waktunya??? Saya sempat drop dan gak tau hendak kemana. Saya cek hostel, sudah fully-booked, kalau toh ada, harganya semi hotel. Cek hotel? Takut saya lihat harganya yang semalam sekitar €150. Saya cari sana sini, dan akhirnya saya dikasih nomor HP seorang Indonesia yang sudah lama menetap di Belanda, sama anggota grup PPI di kota tersebut. Awalnya saya sungkan, karena belum kenal, tapi akhirnya saya sms saja. Walhasil 1x24 jam gak ada respon. Saya terus mencari di internet, sampai sempet kepikiran untuk pinjam uang koperasi kantor dulu biar bisa nginap di hostel selama 2 minggu.

Akhirnya saya nekat, saya telepon nomor tersebut, dan yang menjawab disana adalah seorang pria yang dari suaranya saya bisa tebak adalah setengah baya. Namanya Om Iwan. Dengan amat sopan dan hati-hati saya minta bantuan nya. Dan disinilah keajaiban terjadi !! Om Iwan adalah figur yang sangaat hangat dan ngobrol ditelepon dengannya untuk pertama kali seakan kami sudah kenal bertahun-tahun. Dia meyakinkan saya untuk tenang, dan serahkan ke dia. Biasanya ada kamar kosong dirumahnya, tapi saat itu sudah ditempati oleh mahasiswa Indonesia lain yang juga bernasib sama seperti saya.

Lima belas menit kemudian, Om Iwan yang telepon saya balik ke Indonesia! Saya sama sekali gak nyangka, dia bilang nanti saya ‘dititipkan’ kesalah satu rumah orang Indonesia yang sudah 48 tahun tinggal di belanda. Saya bilang terimakasih. Mulai dari hari itu sampai hari keberangkatan saya, Om Iwan paling tidak satu kali sehari telepon saya, mengingatkan barang2 yang harus dibawa, terutama untuk bayi saya. Om Iwan juga mengenalkan saya dengan induk semang saya disana, katakanlah Oma Mida dan Opa Welly.


Mereka kami tawarkan untuk dibawakan apa dari Indonesia, dan diluar dugaan, mereka Cuma minta dibelikan Ikan Asin Gabus, Oncom, Penyedap Rasa dan Kecap Bercabe!. Langsung saya iyakan dan saya belikan dipasar keesokan harinya. Perhatian Om Iwan juga sangat luar biasa, dia menawarkan untuk menjemput kami di stasiun, dan mengantarkan ke rumah induk semang. Sungguh jasa Om Iwan tidak bisa saya lupakan seumur hidup.


Ratu Lanang Sejagat