December 17, 2013

Wanita-wanita tangguh dihidup ku (1)

Jika ada yang bilang jika laki-laki itu kuat, dan perempuan rapuh, mereka tak sepenuhnya benar. Saya bisa bilang begitu karena saya adalah saksi hidup, dimana wanita menunjukkan kekuatan sejatinya. Mamak saya pertama kali divonis dokter memiliki miom di ovarium nya, saat saya masih duduk di bangku SMP. Saat itu kondisi perekonomian keluarga sedang kacau, jangankan untuk memikirkan operasi, untuk menyampaikan gaji ke tanggal satu bulan berikutnya, butuh perjuangan.

Saya ingat betul kala abah dan mamak pulang dari dokter kala pertama kali, memeriksakan sakit bulanan mamak yang menghebat. Saya dan adek tak ikut, berdua kami menunggu dirumah. Mamak dengan santainya bilang, ada miom sebesar butir pasir, yang jika minum obat, sangat gampang hilang. Tak tahu lah saya perkara nya, saya cuma seorang bujang tanggung waktu itu. Sejak hari itu hingga empat tahun kemudian, setiap bulannya rumah kami disinggahi awan mendung, sangat gelap. Tahun pertama, mamak hanya meringis dikamar, paling lama satu haru satu malam. Mamak masih bisa memasak dan mencuci pakaian. Tahun kedua, mamak mulai selalu izin bekerja, paling tidak sehari dalam sebulan. Nyeri diperut mamak bertambah hebat. Saya ingat, jika nyeri nya datang, mamak akan melakukan hal-hal “ajaib” ditempat tidur, seperti memeluk botol berisi air panas dan tidur dengan posisi nungging.

Kunjungan ke dokter hanya membuat mamak kecewa karena butir psir yang katanya akan hilang,justru membesar seukuran kelereng. Sempat beberapa bulan mamak berhenti berobat saking kecewanya, dan hanya meminum ramuan tradisional yang saya sudah lupa karena begitu beragam. Tahun keempat mamak  mulai bergelung-gelung diatas ranjang. Tidak jarang mamak hampir menjerit sendiri diatas ranjang. Sakitnya bertambah panjang, bisa sampai tiga hari. Saya mulai harus izin sekolah, paling tidak sehari dalam setiap bulan nya. Karena meski perempuan, adek masih kecil, tak banyak yang bisa diharapkan. Saya yang mencuci pakaian dan memasak untuk seisi rumah. Abah tetap harus bekerja untuk menebus obat yang mulai rutin diminum lagi oleh mamak.

Tahun keempat, mamak mulai seperti “orang kesurupan” diatas ranjang jika tamu bulanannya datang. Mamak akan berguling kekiri dan kekanan, menjerit, mendecit, berkeringat, demam, hingga mengigau. Jangan ditanya tentang menangis, sudah kering dihari pertama nyeri datang, karena kini rasa sakitnya bisa bertahan hingga empat dan lima hari. Pernah mamak pingsan di kamar mandi dikala malam ketika ingin bebersih, dan kami baru mengetahuinya dipagi hari. Bayangan mamak yang seperti didalam ruang penyiksaan, masih sangat jelas dikepala saya hingga sekarang.

Selama empat tahun mamak menghindari operasi, karena takut akan sakit nya, dan takut akan biaya nya. Akhirnya mamak menyerah, dengan bantuan sanak saudara dan asuransi PNS yang diurus sana sini, mamak diopetasi di Rumah Sakit Umum Abdoel Moeloek Bandar Lampung, tahun 2000 ketika saya hendak naik ke kelas dua SMA.

Saya masih ingat betul, saya tak bisa menunggui mamak operasi karea ada acara sekolah yang tak bisa ditinggal. Tapi sepulang sekolah saya langsung ke rumah sakit. Tiba disana, mamak sudah selesai dioperasi, ditunjukkan kepada saya segumpal daging seukuran telur angsa dengan serabut-serabut disekitar nya, dan semacam sarang burung didekatnya. Saya ketahui setelahnya jika itu adalah sebelah ovarium mamak beserta rahim nya. Sejak saat itu, hilang sudah penderitaan nya.

To be continued….
  
Ratu Lanang Sejagat

No comments:

Post a Comment