November 25, 2013

Susah nya cari makanan halal - Tips and Tricks

Saya termasuk orang yang tidak terlalu fanatik dengan urusan makanan halal. Sebisa mungkin saya cari yang berlabel halal, kalau gak ketemu, saya hanya bisa berusaha sampai ke level "yang penting bukan pork". Iya, dalam hal ini saya memang belum bisa seperti kolega lain yang sampai detil mencari logo E... something di kemasan makanan yang menandakan gelatin mengandung pork. 

Saya awalnya tidak skeptis tentang hal ini, tapi setelah saya pernah bekerja di sebuah restoran yang mengaku sebagai resto halal, ternyata hanya mengandalkan sertifikat halal butcher, dan tetap menggunakan bumbu2 tanpa label halal, saya jadi skeptis. Jika dalam sepanci besar sup, semua nya halal, tetapi menggunakan blok kaldu tanpa label halal, diimpor dari salah satu negara di asia timur? Saya rasa sepanci besar sup itu sudah tak lagi menjadi halal, versi saklek nya ya. 

Makanya saya sekarang mendefinisikan halal sebagai "sejauh mana usaha kita menghindari, dengan keterbatasan situasi dan kondisi tempat tinggal, serta tingkat kewajaran". Definisi ini jangan didebat dengan Scientific Islam ya, please..... saya ngaku kalah deh dari sekarang. 

Mungkin karena usaha saya untuk mencari makanan halal tak terlalu keras, makanya saya pernah beberapa kali "terperangkap" dan makan makanan tak halal. Saya ceritakan ini bukan untuk gagah2an, tapi siapa tau bisa menjadi inspirasi buat kawan2 yang akan menghadapi situasi dimana mencari makanan halal itu tak semudah di tanah air, misalnya yang mau sekolah atau kerja ke negara yang mayoritas penduduknya tidak memeluk agama islam. Tapi ingat ya, tips dan trick ini hanya untuk kalian yang berprinsip sama dengan saya: "yang penting bukan pork".

Pertama, jangan terjebak dengan stereotipe makanan di suatu negara tertentu. Maksudnya gini, kalau di Indonesia kan yang namanya Siomay (digerobak) itu pasti terbuat dari Ikan, atau seafood seperti udang dan cumi. Nah, jangan serta merta menganggap semua siomay terbuat dari seafood, dan asal makan. Itu kejadian dengan saya, setelah hampir 2 tahun makan dimsim (snack khas aussy yang by default selalu terbuat dari Lamb), saya baru tau ternyata kios langganan tempat saya beli dimsim hangat di musim dingin, ternyata mencampur Lamb dengan Pork. Semoga ada ampunan untuk saya.

Kedua, jangan menyimpulkan sendiri, bahkan sesuatu yang sudah jelas tertangkap denga panca indera, kalau itu halal, ternyata tidak ada jaminan. Saya pernah ke suatu supermarket di Belanda selatan, di butcher section nya disajikan daging masak sebagai tester yang disebelahnya ada flyer/selebaran yang saya paham persis bahwa artinya adalah calves atau sapi muda. Ingat, saya berprinsip "yang penting bukan pork" ya, jangan lagi didebat, kan itu supermarket konvensional, dll. Waktu itu gak ada penjaga disitu, akhirnya saya cicip, dan ternyata enak. Saya cari di etalase butcher nya, ternyata itu adalah pork. Saya kaget bukan kepalang. Saya datangi petugas/manajer supermarket nya, dia bilang itu flyer/selebaran untuk tester yang tadinya ada disebelah tester pork tadi. Jangan pernah menyimpulkan sendiri, clarify first!. Akhirnya dia minta maaf, dan saya lagi2 meminta ampunan.

Ketiga, jangan seratus persen percaya dengan label halal di restoran yang anda akan kunjungi. Ini terjadi dengan saya dan keluarga ketika mau makan siang di Brussel. Seorang kawan yang berkebangsaan jerman mengajak saya makan ditempat semacam fine dining yang kebanyakan menyajikan pork. Saya mengajukan pilihan lain untuk makan di restoran kebab yang sudah dimodifikasi, terlihat modern suasananya. Dan yang jelas label Hellal atau Halal terpampang sangat besar dan jelas. Saya akhirnya mantap makan siang disana, dan memilih sate with salad and frits (fries). Karena Belgia berbatasan dengan Belanda, masakan belanda mempengaruhi makanan belanda. Nah, di belanda ini sate sudah sangat lazim, karena dipengaruhi Indonesia. Dan di Belanda, sate selalu bebahan dasar ayam, atau disebut Kip Sate. Makanya saya pilihlah Sate. Dan apa jawaban yang diberikan pelayan nya? Dia bilang " Tapi kalo sate ini pork, yang gak itu ayam dan beef" (yang mereka beri nama lain, saya lupa). How on earth mereka memampang label halal, tapi jualan pork! Saya fikir ya sudah lah, mereka terlihat dari timur tengah, pasti mereka mengerti arti halal, dan tetap menjual pork demi alasan komersial, tetapi tetap memegang teguh prinsip halal, dengan memisahkan alat masak dan alat makan nya. Akhirnya saya ganti pilihan dengan ayam, dan kolega jerman saya itu memilih sate. Dan lagi-lagi, ternyata sate dan ayam itu digrill di griller yang sama. Dan akhirnya, saya dan prinsip saya memohon ampunan lagi.

Semoga tiga tips ini berguna buat pembaca sekalian. Saya berkesimpulan, cuma ada satu cara untuk memastikan 100% makanan anda adalah halal. Beli bahan protein sendiri di butcher halal, beli bumbu segar sendiri (bukan powder atau liquid dalam kemasan), dan masak sendiri, dengan alat masak sendiri. Dan bayangkan betapa sulitnya jika anda hanya 2-3 hari travelling ke suatu tempat. 

Ratu Lanang Sejagat

No comments:

Post a Comment