October 01, 2013

Aura kebaikan ada dimana-mana (1)


Tulisan ini saya buat ketika menunggu magrib dikontrakan saya di Mastricht Belanda. Ide paling tepat untuk tulisan ini saya rasa adalah tentang “aura baik yang kita timbulkan, akan berbalik ke diri kita sendiri”. Saya dan istri adalah pasangan yang sama seperti orang lain, banyak buruk sangka ke orang lain, dll. Tapi kami berdua selalu berusaha sekuat mungkin untuk menyemburkan aura positif ke orang disekitar kami. Terkadang aura negatif juga terpaksa keluar, ya tergantung “lawan main” nya juga sih. Maklumlah, namanya juga manusia.

Long story short, saya ada pelatihan selama setengah semester di Belanda. Seluruh biaya untuk single di cover oleh sponsor saya dengan asumsi tinggal on-campus. Namun kali ini saya akan membawa serta istri dan anak saya. Nah, untuk bisa tinggal di Belanda, sekeluarga, tentu bukan hal mudah. Hal yang paling membuat frustasi adalah tentang akomodasi. Pihak kampus bersedia saja menyediakan kamar untuk family, tapi saya harus membayar selisih tarif kamar family dengan kamar single yang dikover sponsor, dan itu tidak sedikit. Saya diharuskan membayar €550 perbulan. Jumlah itu tentu sangat fantastis buat saya, dikala Kurs rupiah terhadap Euro waku itu lebih dari 15 ribu.

Akhirnya saya mencari akomodasi selama 2 bulan via online. Segala macam situs, grup, milis, saya jejaki. Hasilnya nihil, sebenarnya banyak sekali kamar yang ditawarkan di internet, tapi minimal kontrak adalah satu tahun atau satu semester. Ada yang bisa 1-2 bulan, tapi itu juga sub-kontrakkan dikala si empunya kamar sedang liburan musim panas, dan itu tentu bukan pada saat saya stay disana, karena shortcourse saya dimulai pada musim gugur. Ada juga kamar yang disewakan harian semacam guest house, yang tarif permalam nya sekitar €30 sampai €50. Bukankah itu hil yang mustahal buat dompet saya?

Nah, disaat sebulan sebelum keberangkatan, saya menerima berita bagus, ada seorang mahasiswa PhD yang sedang mengambil data di Indonesia yang rumahnya bisa dipakai, walapun hanya untuk dua bulan pertama. Langsung saya ambil tawaran itu, perkara sebulan terakhir tinggal dimana, saya akan cari selagi disana. Fikiran tenang selagi mengurus visa, paspor, dan dokumen lain. Seminggu menjelang keberangkatan, saya dikabari oleh mahasiwa PhD tadi kalau kamarnya ternyata masih dihuni pada saat dua minggu pertama stay disana, tapi kabar baiknya, saya bisa stay sampai akhir pelatihan.

Dimana saya harus mencari kamar dengan harga terjangkau, hanya untuk dua minggu, dan mepet sekali waktunya??? Saya sempat drop dan gak tau hendak kemana. Saya cek hostel, sudah fully-booked, kalau toh ada, harganya semi hotel. Cek hotel? Takut saya lihat harganya yang semalam sekitar €150. Saya cari sana sini, dan akhirnya saya dikasih nomor HP seorang Indonesia yang sudah lama menetap di Belanda, sama anggota grup PPI di kota tersebut. Awalnya saya sungkan, karena belum kenal, tapi akhirnya saya sms saja. Walhasil 1x24 jam gak ada respon. Saya terus mencari di internet, sampai sempet kepikiran untuk pinjam uang koperasi kantor dulu biar bisa nginap di hostel selama 2 minggu.

Akhirnya saya nekat, saya telepon nomor tersebut, dan yang menjawab disana adalah seorang pria yang dari suaranya saya bisa tebak adalah setengah baya. Namanya Om Iwan. Dengan amat sopan dan hati-hati saya minta bantuan nya. Dan disinilah keajaiban terjadi !! Om Iwan adalah figur yang sangaat hangat dan ngobrol ditelepon dengannya untuk pertama kali seakan kami sudah kenal bertahun-tahun. Dia meyakinkan saya untuk tenang, dan serahkan ke dia. Biasanya ada kamar kosong dirumahnya, tapi saat itu sudah ditempati oleh mahasiswa Indonesia lain yang juga bernasib sama seperti saya.

Lima belas menit kemudian, Om Iwan yang telepon saya balik ke Indonesia! Saya sama sekali gak nyangka, dia bilang nanti saya ‘dititipkan’ kesalah satu rumah orang Indonesia yang sudah 48 tahun tinggal di belanda. Saya bilang terimakasih. Mulai dari hari itu sampai hari keberangkatan saya, Om Iwan paling tidak satu kali sehari telepon saya, mengingatkan barang2 yang harus dibawa, terutama untuk bayi saya. Om Iwan juga mengenalkan saya dengan induk semang saya disana, katakanlah Oma Mida dan Opa Welly.


Mereka kami tawarkan untuk dibawakan apa dari Indonesia, dan diluar dugaan, mereka Cuma minta dibelikan Ikan Asin Gabus, Oncom, Penyedap Rasa dan Kecap Bercabe!. Langsung saya iyakan dan saya belikan dipasar keesokan harinya. Perhatian Om Iwan juga sangat luar biasa, dia menawarkan untuk menjemput kami di stasiun, dan mengantarkan ke rumah induk semang. Sungguh jasa Om Iwan tidak bisa saya lupakan seumur hidup.


Ratu Lanang Sejagat

4 comments:

  1. Dan tentunya yg memberikan info nomor om iwan.. Hehe

    ReplyDelete
  2. nice post bro... akhirnya ketemu juga ama om Iwan. Salam hangat dari saya ya...

    ReplyDelete
  3. Sungguh luar biasa bang perjuanganmu...semoga diberi kelancaran, kesehatan adek qiel, tumpuan dan abang disana...amin

    ReplyDelete
  4. @dino: yaa...itu tentu juga masuk dalam list "orang yang berjasa" dalam hidup ku. hehe

    @Mas Rizqi: iya mas, alhamdulilah sekali bisa ketemu sama beliau. Mas Rizqi ini yg pernah tinggal dirumah nya juga kah?

    @amel: makasih dek...amiin..amiin...baca yg seri kedua dan ketiga nya juga ga?

    ReplyDelete